Posts

Tumpukkan Sampah

Tentunya, teman-teman sudah tahu bagaimana permasalahan pengelolaan sampah di Indonesia bukan? Atau minimal pernah merasakan dampaknya, seperti sungai meluap karena sampah, sampah menumpuk di TPS (Tempat Penyimpanan Sementara) tidak diangkut-angkut, sampah berserakan dimana-mana.. Wah masih banyak lagi. Nah, kali ini saya akan membahas dengan agak detail terkait salah satu aspek pengelolaan sampah dalam kehidupan sehari-hari, yakni TPA atau tempat pembuangan akhir sampah.

TPA merupakan fasilitas komunal dalam suatu daerah yang digunakan sebagai tempat pengumpulan akhir sampah yang dihasilkan suatu area.

Namun, tidak jarang TPA yang dibuat ini malah menimbulkan dampak lingkungan yang buruk bagi sekitarnya. Oleh karena itu, inovasi desain TPA dari hari ke hari mengalami perubahan dan perkembangan untuk mencegah terjadinya dampak negatif yang dihasilkan dari TPA yang ada.

Baiklah, kita mulai ya. Tulisan ini berisi tentang bagaimana cara mendesain fasilitas sanitary landfill sebagai pembuangan sampah terakhir di perkotaan atau bahasa Inggisnya, Municipal Solid Waste (MSW). Informasi dan metode desain yang digunakan dalam tulisan ini merupakan desain asli yang dibuat oleh kami di suatu daerah. Namun, informasi daerah dan detailnya saya rahasiakan.

SASARAN

Berikut adalah sasaran yang diinginkan oleh si Pemerintah Daerah tersebut. Terdapat setidaknya lima sasaran kegiatan yang ingin dicapai, diantaranya adalah :

  1. Terintegrasinya sistem pengelolaan sampah dengan sektor lain seperti; sektor air minum, air limbah dan drainase.
  2. Tersedianya Detailed Engineering Design (DED) TPA yang mengantisipasi pertumbuhan timbulan sampah.
  3. Terintegrasinya konsep intensifikasi kebersihan berupa konsep reduksi sampah, daur ulang maupun pengomposan.
  4. Tersedianya konsep rancangan kebutuhan dana investasi dan operasional selama 5 (lima) tahun kedepan.
  5. Meningkatkan kemampuan instansi pengelola persampahan dalam melaksanakan kegiatan operasi dan pemeliharaan.

Dari sasaran diatas, kita dapat mengetahui kalau outputnya adalah pembangunanTPA (Tempat Pembuangan Akhir) Sanitary Landfill di suatu daerah. Artinya, desain yang dibuat bukan hanya blockplan atau siteplan tapi juga sampai ke Detiled Engineering Design (DED). Setelah mengetahui sasaran yang ingin dicapai, kita bisa langsung menyusun pekerjaan desain.

DASAR HUKUM

Pertama kali, kita harus mengetahui Norma, Peraturan, Standar, atau Manual (NPSM) yang dapat dijadikan acuan bagi desain. Hal ini sangat penting untuk dilakukan pertama kali, karena ruang lingkup pekerjaan akan menjadi lebih jelas. Jika kita tidak mengacu pada NPSM, maka dimungkinkan desain kita tidak sesuai dengan kondisi atau aturan yang berlaku. Tentunya akan menimbulkan konflik di depan. Nah, berikut daftar standar teknis yang dapat kita acu untuk desain TPA Sanitary Landfill :

  1. SK-SNI 19-2454-1991 dan SK-SNI 19-3242-1994 tentang Cara Pengelolaan Sampah Perkotaan
  2. SNI S 19-3964-1995 dan SNI M 19-3964-1995 Tentang Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh Timbulan dan Komposisi Sampah Perkotaan
  3. SK SNI 91 dan SNI 19-3241-1994 tentang Cara Pemilihan Lokasi Tempat Pembuangan Akhir Sampah.
  4. SNI 29-2454-2002 tentang Tata Cara Teknik Operasional Pengelolaan Sampah.

Sedangkan, acuan normatif atau peraturan terkait yang dapat mempengaruhi desain adalah sebagai berikut :

  1. Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
  2. Undang-undang R.I. Nomor: 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.
  3. Undang-undang R.I. Nomor: 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.
  4. Peraturan pemerintah R.I. Nomor : 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga
  5. Peraturan Pemerintah R.I. Nomor : 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum.
  6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 21/PRT/M/2006 tentang Kebijakan Strategi Nasional Pengelolaan Persampahan
  7. Peraturan Menteri PUPR Nomor 28 tahun 2016 tentang Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan Bidang Pekerjaan Umum

Cukup banyak ya? Sebenarnya, kita bisa saja jadikan standar desain atau spesifikasi teknis dari luar negeri untuk desain Sanitary Landfill di Indonesia. Namun, standar lokal yang lebih diutamakan. Kenapa? Karena pada umumnya, standar lokal juga bersumber dari standar Internasional yang sudah di adjust sesuai dengan kondisi Indonesia atau wilayah lokal yang ada.

KONSEP

Teman-teman dapat melihat detail penjelasan sanitary landfill disini. Ringkasnya, secara konseptual keberadaan Lokasi TPA harus benar-benar aman, baik terhadap kesehatan masyarakat maupun terhadap kesehatan lingkungan sehingga pengaturan zona dan kesesuaian dengan rencana tata ruang dan wilayah adalah salah satu kunci utama dalam penentuan lokasi TPA. Lokasi harus memiliki batasan tersendiri dari area pemukiman atau area lainnya yang menjadi aktivitas manusia. Pasalnya, dapat dimungkinkan terjadi pencemaran tanah, air dan air tanah akibat sampah dalam TPA. Dampak negatif TPA bagi lingkungan diantaranya ada air lindi, kebauan, sumber penyakit, dan gas beracun. Zona pembatas atau penyangga, dapat dilihat pada ilustrasi berikut :

Zona penyangga sanitary landfill

zona penyangga landfill

Fokus utama desain Sanitary Landfill adalah sebagai berikut :

dampak sanitary landfill

Beberapa istilah yang perlu diketahui dalam desain Sanitary Landfill diantaranya adalah :

Cell

Sampah yang dipadatkan oleh tanah penutup harian di sanitary landfill. Cell umumnya memiliki dimensi tersendiri yang disesuaikan dengan lokasi dan perlatan yang dimiliki.

Lift

Lapisan cell pada area kerja di sanitary landfill. Ketebalan lift dapat mencapai 1.5 – 2.25 meter

Tanah Penutup Harian

Tanah yang digunakan untuk menutup sampah yang sudah memenuhi dimensi cell yang ditentukan

Gas Landfill

Gas yang terbentuk dalam landfill akibat proses dekomposisi anaerobik dari fraksi sampah organik.

Liner

Bahan alam atau sintetik yang digunakan sebagai pencegah terjadinya kebocoran air lindi. Liner alam umumnya terbentuk dari clay atau tanah liat yang dibuat kedap air. Sedangkan, liner sintetik umumnya terbuat dari geotextile atau geomembrane

IPL

Instalasi Pengolahan Lindi, yakni fasilitas yang digunakan untuk melakukan pengolahan air lindi

METODOLOGI

Desain Sanitary Landfill umumnya dibagi menjadi dua kegiatan besar, yakni tahapan persiapan atau tahapan survey dan tahapan pembuatan desain.

Tahapan Persiapan dan Survey

Tahapan ini merupakan tahap awal dari pekerjaan yang berupa kegiatan inventarisasi data (data sekunder) dan survey lapangan (data primer). Berikut detail kegiatan survey yang dilakukan di lapangan dan kebutuhan data sekunder :

Survey Pengelolaan Persampahan Eksisting

Melihat metode pengelolaan sampah yang ada, termasuk pendataan sistem, SDM dan peralatan yang dimiliki oleh pemerintah setempat

Survey Lokasi TPA

    • Pemetaan tapak dan Lokasi TPA
    • Survey hidrogeologi TPA
    • Survey kualitas air
    • Survey Meteorologi
    • Pengambilan sampel tanah
    • Pengujian tanah

Data sekunder

    • Data tanah
    • Data penduduk
    • Data meteorologi
    • Data timbulan dan komposisi sampah

Tahapan Pembuatan Desain

Berikut adalah aspek-aspek pekerjaan yang dilakukan.

  1. Pembuatan site plan dan garis besar rencana TPA
  2. Analisis data primer dan data sekunder
  3. Penyusunan spesifikasi teknis sebagai dasar pembuatan desain
  4. Detail desain TPA
    • Perencanaan lapisan dasar lahan
    • Rencana timbulan sampah
    • Rencana sistem drainase
    • Rencana sistem pengelolaan lindi
    • Rencana ventilasi gas
    • Rencana jalur hijau penyangga
    • Rencana operasional
    • Rencana pasca operasi
    • Rencana analisis biaya
    • Penggambaran (pembuatan gambar DED)

PEMBAHASAN

Sebelum dimulai tahapan pekerjaan, kita bisa lakukan assessment atau penilaian terlebih dahulu terkait dengan kecocokan lokasi TPA Sanitary Landfill. Penilaian ini dilakukan dengan mengacu pada SNI 03-3241-1994 tentang tata cara pemilihan lokasi TPA. Di dalam standar tersebut disebutkan bahwa perencanaan TPA sampah perkotaan perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Rencana pengembangan kota dan daerah, tata guna lahan serta rencana pemanfaatan lahan bekas TPA.
  2. Kemampuan ekonomi Pemerintah Daerah setempat dan masyarakat, untuk menentukan teknologi sarana dan prasarana TPA yang layak secara ekonomis, teknis dan lingkungan
  3. Kondisi fisik dan geologi seperti topografi, jenis tanah, kelulusan tanah, kedalaman air tanah, kondisi badan air sekitarnya, pengaruh pasang surut, angin, iklim, curah hujan, untuk menentukan metode pembuangan akhir sampah.
  4. Rencana pengembangan jaringan jalan yang ada, untuk menentukan rencana jalan masuk TPA.
  5. Rencana TPA di daerah lereng agar memperhitungkan masalah kemungkinan terjadinya longsor.

Metode pembuangan akhir sampah pada dasarnya harus memenuhi prinsip teknis berwawasan lingkungan sebagai berikut :

  1. Di kota besar dan metropolitan harus direncanakan sesuai metode lahan urug saniter (sanitary landfill) sedangkan kota kecil dan sedang minimal harus direncanakan metode lahan urug terkendali (controlled landfill).
  2. Harus ada pengendalian lindi, yang terbentuk dari proses dekomposisi sampah tidak mencemari tanah, air tanah maupun badan air yang ada.
  3. Harus ada pengendalian gas dan bau hasil dekomposisi sampah, agar tidak mencemari udara, menyebabkan kebakaran atau bahaya asap dan menyebabkan efek rumah kaca.
  4. Harus ada pengendalian vektor penyakit.

Sarana dan prasarana TPA Sarana dan prasarana TPA yang dapat mendukung prinsip tersebut di atas adalah sebagai berikut :

  1. Fasilitas umum (jalan masuk, kantor/pos jaga, saluran drainase dan pagar).
  2. Fasilitas perlindungan lingkungan (lapisan kedap air, pengumpul lindi, pengolahan lindi, ventilasi gas, daerah penyangga, tanah penutup)
  3. Fasilitas penunjang (jembatan timbang, fasilitas air bersih, listrik, bengkel dan hanggar)
  4. Fasilitas operasional (alat besar dan truk pengangkut tanah).

Berikut aspek yang harus dinilai untuk menentukan kelayakan lokasi TPA Sanitary Landfill.penilaian kelayakan TPA

Situasi dan Topografi

Setelah menilai kelayakan lokasi, dilakukan analisis topografi atau kontur dari lokasi TPA. Tahapan ini sangat penting untuk merencanakan tata letak landfill dan fasilitas penunjangnya. Data yang dibutuhkan untuk analisis topografi diantaranya adalah data kontur (didapat dari pengukuran langsung atau data citra satelit). Berikut contoh peta kontur lokasi TPA.

peta kontur

peta kontur warna

peta topografi

Melalui peta kontur tersebut, dapat dilihat sekilas bahwa permukaan lokasi TPA (yang diarsir) cenderung berlereng-lereng dan berundak-undak. Analisis topografi diikuti oleh analisis kelerengan dan kemiringan untuk mengantisipasi pergerakan tanah. Hal ini sangat penting untuk penentuan tata letak fasilitas yang ada.

Analisis Hidrologi

Kita perlu mengetahui kondisi hidrologi dalam suatu daerah untuk memperhitungkan pergerakan tanah, stabilisasi lereng, drainase, dan potensi timbulan lindi. Nah, analisis hidrologi ini sebenarnya memiliki proses yang cukup panjang. Lain kali saya akan coba posting detail mengenai hal ini. Disini saya coba jabarkan singkatnya saja.

Analisis hidrologi dimulai dari pengumpulan data sekunder dari stasiun hujan setempat. Umumnya, stasiun hujan ini dikelola oleh BMKG. Data hidrologi ini mencakup intensitas hujan, curah hujan maksimum, dan curah hujan periodik. Kemudian dilakukan analisis frekuensi curah hujan dengan 6 metode distribusi statistik, yakni Metode Normal, Log Normal 2 Parameter, Log Normal 3 Parameter, Pearson Type III, Log Pearson Type III dan Metode Gumbel. Sehingga nanti akan didapat data seperti ini :

analisis hidrologi

Dari data ini kemudian dicari mana nilai R yang paling sesuai dari ke enam metode tersebut. Sesuai dapat berarti nilainya paling tinggi untuk periode ulang yang dikehendaki. Kemudian, setelah mendapatkan nilai R, kita melakukan pemodelan kurva IDF (Intensity, Duration, and Frequency) melalui persamaan Mononobe. Sehingga, singkat cerita, didapatkan nilai debit maksimum untuk menghitung estimasi produksi air lindi dan drainase.

Penyelidikan Tanah

Penyelidikan tanah dilakukan untuk memperoleh daya dukung tanah sebagai perletakan struktur dan stabilitas tanah serta kemungkinan tanah tersebut untuk digunakan sebagai cover soil. Dalam rangka kebutuhan data untuk desain TPA ini dilakukan pengujian tanah lapangan dan laboratorium pada dua titik lokasi yang diasumsikan dapat mewakili dan pengujian sampel untuk kedalaman 4m dan 12m. Berikut contoh hasil penyelidikan tanah.

penyelidikan tanah

(TO BE CONTINUED)